Thursday, November 26, 2020

Program Wirakriya Telkom Indonesia









Siaran Weekend...
Wirakriya Telkom & Dekranas
Wilayah Mandalika Lombok
Dari studio sederhana ini saya biasa siaran & ngajar...

Jangan Harap Kembali Normal










Semua menunggu-nunggu, kapan pandemi berakhir. Kapan situasi kembali nornal seperti sebelum pandemi. Jualan lancar, terus tumbuh dan banyak peluang hadir.

No way,

Ndak akan ada lagi situasi seperti sebelum pandemi. Sembilan bulan sudah kita dipaksa membiasakan diri dengan sesuatu yang baru. Kata orang, untuk membiasakan diri kepada kebiasaan baru waktu tiga bulan, dan itu akan berpotensi menjadi kebiasaan permanen baru.

Kebiasaan baru ini sudah diinject suka atau tidak suka selama sembilan bulan. Secara tak sadar kita telah membiasakan dengan kebiasaan baru, gaya baru dan budaya baru.

Lantas, andai setahun baru pulih pandemi, dan kita berharap kembali kepada kebiasaan lama sebelum pandami, itu sebuah harapan yang sulit terjadi.

Selama sembilan bulan, mulai muncul kenyamanan baru, belajar online, belanja online, kerja online dan sejenisnya. Dan ternyata itu bisa dilakukan yang sebelumnya sebuah kemuskilan.

Jika kenyamanan itu terjadi, maka untuk krmbali seperti sedia kala sangat lah sulit terjadi. Terus bagaimana bertahan dalam era perubahan yang memaksa tadi.

Ndak ada plihan, mesti berimajinasi seperti apa kiranya dunia baru paska pandemi nanti. Harus melakukan adjustment kerja dan bisnis. Cara produsi, cara memasarkan dan cara distribusi di alaf baru ini. Tanpa melakukan adaptasi ini, rasanya sulit untuk tetap bertahan.

Hari ini, banyak kuliner pinggir jalan pada tutup,  hotel dan penginapan, travel dan jasa transportasi, usaha kerajinan dan lainnya. Jika tetap bertahan dengan cara-cara lama dan berharap pandemi berlalu dan omset pulih kembali seperti sedia kala, rasanya itu hal yang mustahal.

Tak ada pilihan, mari beradaptasi dan terus berinovasi dengan cara-cara baru. Para petani, nelayan, pedagang dan para pekerja. Mari kita yakini, bahwa kembali nornal seperti semula itu adalah utopia, bak mimpi disiang bolong. Mari kita sambut senyum hangat penuh semangat dunia baru yang sedang muncul.

Empat Guru Satu Ilmu









Minggu lalu bertemu dengan para mentor lokal pemenang Wirakriya destinasi Borobudur.

Ada yang usaha batik ecoprint, kebaya encim, ukiran kayu dan agro bisnis ikan. Para mentor lokal yang tumbuh kembang bersama Telkom Community Development ini berbagi tentang kiat bisnisnya kepada mereka yang memulai bisnis.

Ada satu kata kunci dari keempat mentor yang sudah sukses dengan usia usaha sekitar 20 tahun.

Apa kata kuncinya, fokuslah pada satu bisnismu sampai menghasilkan cash. Jika sudah stabil, kamu bisa melirik lainnya.

Fokus, mudah diucapkan, tapi rawan godaan.

#wirakriya

#telkomindonesia

#dekranas

Sunday, May 17, 2020

Mengelola Bisnis di Saat Krisis

















Webinar bersama UKM Binaan CDC Telkom Indonesia.
Bagaimana keluar krisis dan menjadi pemenang...

UKM kita itu cerdas-cerdas...
Dari beberapa sharing pagi ini dengan 50 ukm-an, diantara mereka sudah praktek pivoting dan jalan...
Diantaranya, dari produsen sepatu di pasuruan moving jadi sepatu dan alat apd. Yang dari jualan kripik kentang di madiun jadi jualan beras.
Kuncinya adalah moving dari mensuplai produk yang jadi keinginan dan mimpi customer menuju apa yang dibutuhkan, yang jadi permasalahan dan yang ditakutkan pelanggan.
Ukm kita memang jagoan...
Semoga ukm lain mengusul...

Inovate or die...


Sang Guru Peradaban













Belum lama hari pendidikan berlalu, dan selalu saja hari pendidikan jadi momentum mengingat para guru-guru kita yang acapkali digelari pahlawan tanpa tanda jasa. Jasanya besar, tapi memang tak ada tanda resminya, yang ada adalah kenangan-kenangam indah yang tak bisa dihapus dari kenangan dari muridnya.

Pendidikan adalah awal pencerahan dan tanda dari sebuah kebangkitan suatu kaum. Lihatlah, negeri-negeri yang terbelakang, pengungkit bangkitnya selalu dan selalu saja dari pendidikan. Kebangkitan pendidikan mengawali sebelum kebangkitan-kebangkitan lainnya. Ekonomi, sosial, politik dan budaya.

Jepang dengan restorasi meiji, india dengan mengirim mahasiswa ke Amerika besar-besaran saat PM Rao, China tak kalah banyak yang belajar di barat maupun di Ausie. Negeri jiran kita, Malaysia banyak mengirim mahasiswanya ke PT di Indonesia sebelum bertebaran ke barat.
Makanya sangat wajar, jika revolusi kemerdekaan negeri ini dimulai dari para cendekiawan. Coba lihat Sukarno, Hatta, Agus Salim, Tjokroaminoto, Syahrir dan tokoh-tokoh lainnya. Mereka terpelajar dan terlahir bukan dari kaum priyayi.

Hari-hari ini, kesadaran belajar sudah menggembirakan, baik dari orang tua maupun murid, walau umumnya masih sebatas didaerah perkotaan. Tapi perlu diapresiasi perkembangan ini. Menariknya lagi, dikotomi antara sekolah umum dan agama juga semakin menipis. Orang semakin sadar, bahwa sekularisasi pendidikan tak banyak membawa manfaat. Orang menginginkan anaknya didik paripurna antara akhlak dan otak.

Menilik perkembangaan bangsa ini, sejatinya pendidikan lama justru dimulai dengan perkembangam pesantren. Tahukan Anda bahwa kedaton Giri di Gresik adalah markas sunan Giri membina para santrinya yang kebanyakan dari Indonesia Timur.
Tradisi ini kemudian berkembang dengan lahirnya banyak pesantren dikawasan Jawa Timur. Sebut saja pesantren Tambak Beras, Lirboyo, Plosomojo, Asembagus, Denanyar dan banyak pesantren tua lainnya.

Bersyukur, jika jaman penjajahan, pesantren sering dapat stigma ekstrimis dan kaum terbelakang. Hari ini berubah wajah menjadi pesantren yang mampu beradaptasi dengan dunia modern.
Hari ini, eksplorasi teknik mendidik sudah sedemikan maju. Kadang kita silau atas kemajuan bangsa lain dan kemudian mencopy habis sisten pendidikan yang ada di barat. Turunan metode pendidikan dan pemberdayaan ini juga kian beragam, dari klasikal sampai digital. Dari training, mentoring, konseling dan coaching.

Namun, ada satu hal penting sebagai seorang muslim, jangan sampai kehilangan deleg. Sebagus dan sehebat pendidikan yang ada, tak akan mampu menandidingi sistem pendidikan yang diberikan Sang Guru Peradaban.

Bayangkan, dalam kurun didik sekitar 23 tahun saja, dari tangan dinginnya, lahir panglima-panglima besar dunia, politisi-politisi hebat dunia, mujahid-mujahid kelas wahid, ahli ilmu, ahli strategi dan ahli-ahli lainnya dalam berbagai bidang.

Bayangkan, dari tangan dinginnya, Romawi dalam genggaman anak didiknya. Persia dalam binaan anak didiknya. Semua itu bermula dari negeri yang tandus dengan budaya gurun yang tak pernah tersentuh peradaban apapun. Mereka tidak berminat menaruh dan memperhatikan negeri jazirah itu.
Di momentum ramadhan ini, sangat bagus mengurai dan mengkaji sistem yang ampuh ini.

Sebagaimana mendaki gunung, jalan termudah adalah meniru pendaki yang telah sampai pada puncaknya. Pun demikian, sebagai seorang guru, cara terbaik melahirkan generasi kelas wahid adalah meniru contoh metode yang telah teruji dalam sejarah peradaban manusia.
Ia adalah metodologi sang Nabi yang tak pernah usang ditelan zaman.
Selamat hari pendidikan nasional. Selamat hari pengungkit kebangkitan suatu bangsa.

Webinar Jatuh Bangun Bisnis Online















Karena Kepepet
Karena kepepet, bermula dari jualan kaos eceran dari rumah kontrakan akhirnya kecemplung bisnis online. Tak terasa 12 tahun sudah waktu berlalu. Tak semuanya yang saya jalani berhasil, yang gagal juga banyak.

Mengalami fase naik turun sesuai dengan perkembangan teknologi di jamannya, dari bagaimana saat sms merajai, google yang dominan, munculnya blackberry, muncul lagi android, berikutnya gelombang sosial media dan terakhir menjamurnya market place.

Bagaimana tetap bertahan melalui gelombang jaman yang semakin hari semakin liar saja. Bagaimana juga kabar terbaru industri sandang di tanah air, apalagi disaat pandemi melanda...
Pun bagaimana cara mengelola waktu ala manusia yang hidup di empat kuadran, employee, self employee, businessman & investor.

Pada akhirnya, hidup bukanlah sekedar berapa kepeng yang bisa kita collect, tapi bagaimana terus mencoba memaknai perjalanan hidup kita sebagai sarana mengumpulkan bekal perjalanan yang lebih panjang. Kita terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, lantas bagaimana potensi itu bisa kita gali maksimal, bukan dari kacamata orang lain, tapi dari perspektif kita sendiri....
Yuk,
Saling berbagi di sesi expert insight...
FREE....

Saturday, April 25, 2020

Bukan Kaleng-Kaleng















Ada beberapa kesempatan bertemu dengan orang yang sangat kompenten dibidangnya. Kadang dibuat takjub dan terheran-heran karena skillsnya level dewanya.

Suatu hari bertemu dengan bapak yang sudah lanjut usianya. Ahli membuat per. Nyaris per apapun dia bisa bikin. Karena keahliannya yang puluhan tahun itu, banyak pelanggannya pesan per-per dengan ukuran khusus yang sulit ditemui dipasaran. Dan yang luar biasa lagi, pemotongan dan pelingkarannya dibuat dengan cara manual. Saya tanya, belajar dimana, jawabnya otodidak.

Suatu hari ketemu ahli reparasi mesin jahit. Lebih dari 30 tahun menekuni kerusakan aneka mesin jahit. Otodidak. Nyaris semua merek bisa ditangani sekaligus disolusi masalahnya. Saya tanya, sekolah dimana, jawabnya dulu pernah kerja di garmen dan selebihnya otodidak.

Hari ini, orang sibuk mencari corong untuk bikin masker. Semua toko kehabisan stock corong untuk bikin tali masker. Dari jaringan, dikenalkan dengan seorang bapak tua. Sudah sejak 1985 membuat corong celana jeans. Sampai-sampai anaknya sukses. Ndak habis pikir, bagaimana bisa membuat barang kecil dengan bahan stainless steel dengan cara manual. Saya terbengong-bengong melihat hasil karyanya. Karena penasaran, saya tanya, belajar darimana bisa membuat barang sulit itu, jawabnya otodidak.

Berikutnya lagi, ada seorang ahli tinta. Yang karyanya dijadikan rujukan para sabloner. Dari hasil risetnya telah membesarkan beberapa toko alat sablon. Saat ditanya, jawabnya otodidak.

Berikutnya, ahli sepatu. Dari keterampilannya membuat upper dan sol sepatu, telah melahirkan banyak juragan sepatu di bandung dan jakarta. Tangan dinginnya melahirkan industri lokal bisa bersaing dengan produk global. Saat tanya, bagaimana dapat ilmu itu, jawabnya belajar dari seseorang, selebihnya otodidak.

Masih banyak lagi fulan-fulan yang lain, yang memiliki expertis level dewa, yang karena keterbatasan belajar ngulik secara otodidak.

Dan semakin yakinlah, pendidikan formal itu penting, tapi jauh lebih penting membangun semangat untuk belajar tiada akhir. Jangan sampai setelah ijazah didapatkan, setelah lulus ujian sertifikasi dan setelah gelar didapat berhenti untuk belajar.

Sungguh, sejatinya bangsa ini, manusianya bukan manusia kaleng-kaleng...

Sambil kita renungkan, apa keahlian terhebat yang kita punya dan selalu kita asah, hingga makin hari makin setajam silet...

Pakar Tapi Ambyar















Melanjutkan seri pemberdayaan sebelumnya. Sebenarnya potensi untuk menjadi hebat anak bangsa ini luar biasa. Rekam jejaknya bisa dicari jejaknya, ada begitu banyak juara olimpiade, menjadi lulusan terbaik di universitas di luar negeri dan beberapa ajang unjuk kompetensi lainnya. Ini menunjukkan, anak bangsa ini bukan kaleng-kaleng.

Namun, kembali lagi, kepakaran itu tak banyak mengubah nasib bangsa ini. Setelah lulus dan balik lagi ke negeri ini, seakan jejak kehebatan itu lenyap ditelan bumi. Kembali menjadi manusia biasa pada umumnya. Why ?

Lebih dekat lagi, negeri ini meluluskan begitu banyak sarjana pertanian, kehutanan, kelautan, perikanan dan banyak disiplin ilmu lainnya. Tapi ketika kita tengok, semuanya serba impor, gula, kedelai, jagung, daging beku, ikan beku, jeruk, apel, bawang putih dan sebagainya. Why ?

Dimana gerangan benang kusutnya. Kenapa potensi lahan yang subur, laut yang luas dan hutan tropis yang kaya flora dan fauna, seakan tak memberi dampak bahwa negeri ini bisa lebih makmur.

Ada sebuah narasi, bahwa maju mundurnya sebuah bangsa, tak cukup hanya hebat, tapi juga harus baik. Bahkan konon, derajat baik harus lebih tinggi dari kadar hebatnya.

Punya skills hebat, punya pengetahuan hebat, tapi punya prilaku buruk, tak membuatnya jadi bangsa hebat. Pun demikian, prilakunya baik, jujur, berintegritas dan loyal, tapi tak ada kompetensi. Sami mawon.

Saya cerita yang lebih detail berdasarkan pengalaman empiris agar bisa ditangkap lebih riil.

Begini, seorang pengusaha bengkel, yang saya tahu, lebih pakar tukang bengkelnya daripada ownernya. Seorang owner pabrik mie instan, ternyata punya orang yang ahli dalam meracik bumbunya. Seorang owner clothing yang hebat, ternyata tak banyak yang jago desain dan sablon. Atau seorang owner butik sepatu, tak banyak yang bisa bikin upper dan pasang sol sepatu.

Artinya apa, kepakaran dalam suatu bidang, itu tidak berdiri sendiri. Dia akan memperoleh hasil maksimal ketika berkolaborasi dengan kompetensi yang lainnya. Selama ia berdiri sendiri, selamanya ia tidak akan berkembang.

Hampir semua kepakaran teknis, akan menjadi besar jika dihubungkan dengan kepakaran dalam bidang manajemen. Seorang ahli sol sepatu, ia akan bernilai tinggi ketika dia masuk ekosistem produksi sepatu. Namun saat berdiri sendiri, ia akan hidup seadanya.

Nah, umumnya yang saya temui, banyak pakar dengan jam kerja yang panjang, tetap saja hidup segan mati tak mau. Stagnan. Salah satunya adalah, lemahnya dalam ilmu manajemen. Ilmu manajemen dalam bahasa sederhananya adalah bagaimana hasil karyanya bisa secara berkesinambungan terkoneksi dengan kebutuhan pasar.

Dalam konteks yang lebih sederhana, bagaimana mampu sebuah kepakaran dalam sekala kecil, diubah dan dipacu untuk berkembang dalam skala industri yang lebih besar. Ini hanya bisa terjadi jika ada sentuhan manajemen. Dan masalahnya, kemampuan ini minim dimiliki para pakar itu.

Andaikan para pakar itu mau belajar atau menemukan orang yang bisa menjadi media menyambungkan kepakarannya dengan pasar, maka yang terjadi bak bumi dan langit. Dan mayoritas, inilah permasalahan utama industri lokal yang dihadapi. Memang tidak sesimpel ini, tapi ini yang ada dalam kendali kita. Ada faktor kebijakan impor, proteksi dan peran pemerintah lainnya yang diluar kendali.

Kalaupun satu kunci yang perlu diupgrade bagi para pakar itu, maka kunci itu adalah manajemen, kalaupun diminta satu kunci dari manajemen, maka kunci itu adalah kemampuan memasarkan produk. Jadi kemampuan sales adalah ibu dari segala kemampuan sebelum kepakaran itu bermula.

Maka, sudah pas benar, jika nabi terakhir diutus dengan profesi sebagai seorang pedagang. Pada kenyataannya, membuat produk jauh lebih mudah dari menjualnya. Menjadi pakar lebih mudah daripada melakukan komersialisasi atas kepakarannya bukan ?

Tak Harus Malu Belajar















Masih dalam kerangka mengulik hikmah dari pandemi corona, tak ada salahnya berbagi ide. Agar tak kehabisan harapan, layaknya api unggun yang kehabisan kayu bakar yang meninggalkan bara dan abu.

Hikmah pandemi, dari sisi ekonomi adalah belajar berdikari dan survival. Ujian ekonomi kali ini beda dengan tahun 1998 atau 2008 lalu. Kalau goyangan sebelumnya, itu yang terdampak hanya sebagian negara, kali ini ndak, merata. Negara yang suka ekpor maupun yang gemar impor. Sama.

Berdikari itu harus dipaksa. Sesuatu yang ndak enak, sangat sulit dipacu dengan stimulus rasa enak, dan mujarab distimulus rasa sakit. Corona kali ini disuntik rasa sakit agar muncul jiwa berdikarinya. Berhasil atau tidak, sangat tergantung masing-masing.

Stimulus rasa sakit ini, banyak menyembuhkan negera-negara maju untuk bangkit, khususnya di sektor industri. Mari kita kupas satu-satu, yang kebetulan saya menyaksikan langsung keadaan negeri-negeri itu.

Jepun, salah satu kampiun industri dunia, mengalami dua kebangkitan. Pertama saat restorasi meiji, yang memaksa kekuasan para samurai menyatu. Restorasi meiji yang memaksa para pemudanya berkelana belajar dinegeri barat dan harus kembali setelah lulus untuk membangun industri dalam negeri.

Pukulan menyakitkan kedua saat hirosima dan nagasaki, yang menyebabkan jepang jadi pesakitan, macu kembali untuk bangkit menjadi negara industri. Perhatian hirohito begitu kuat pada para guru dan orang berilmu menjadi pemantik bangkitnya industri jepang.

Pertumbuhan industrinya diproteksi melalui sogo sosha, yang membimbing industri rumahan naik kelas menjadi industri nasional dan global. Suzuki, toyota, mitsubishi, honda dan lainnya adalah nama-nama orang yang diawali dari industri rumahan yang kini mengglobal. Kalau anda jalan di tokyo, pastilah sulit anda temui merek diluar produk-produk dalam negeri mereka.

Berikutnya Korea. Rasa sakit akan penderitaan dijajah jepang membuat korea bangkit. Tak mau jadi warga kelas dua. Jargon warga korea lebih baik dari jepun didengungkan. Filem-filem heroik melawan jepang didaraskan kepada anak-anak muda.

Peran negara tak lupa hadir, lahirlah chaebol-chaebol alias usaha rumahan yang kemudian diproteksi dan dikembangkan. Muncul hyundai, daewoo, kia, samsung dan lainnya. Kalau anda jalan di Seoul, pasti sangat sulit anda temui merek-merek selain produk korea.

Kita melompat lebih jauh, Belanda. Negeri yang pernah menjajah kita. Negeri kincir angin ini adalah salah satu penghasil keju, daging dan sayur di eropa barat. Kualitas kejunya banyak orang menyebut sebagai kualitas terbaik. Mengapa demikian, salah satunya adalah proteksi dari negaranya.

Atau melirik petani dan peternak dipegunungan swiss. Variasi cuaca dengan empat musim, membuat para peternak dan petani kerja ekstra, saat musim panas menyiapkan makanan ternak untuk persiapan musim dingin. Kenapa mereka mampu bertahan di industri ternak dan pangan, sekali lagi, pemerintah hadir dan memberi subsidi kepada petani dan peternak.

Dari kisah-kisah ini, apa yang bisa kita pelajari. Negera maju itu didesain, bukan dibiarkan tumbuh sendiri dan ambyar pada akhirnya. Siapa yang mendesain, pemerintah negerinya. Hadirnya negara ibarat rumah bagi para penghuninya. Bisa dibayangkan, jika sebuah keluarga tanpa rumah. Cerai berai.

Apakah peran negara dalam industri di negeri ini lahir sebagaimana layaknya ? Apakah negara telah berpihak pada stakeholder utamanya, yaitu rakyat ? Apakah negara hadir menjadi pelindung industri anak bangsa ?

Tak perlu dijawab sekarang, kondisi saat ini secara empiris menjawab atas pertanyaan-pertanyaan tersebut...

Lantas apa yang bisa dilakukan sebagai anak bangsa, jawabnya simpel, jika negara gagal melindungi, mari menyiapkan penyelamatan dan melindungi diri masing-masing...

Ngaku Unggul Tapi Biasa Saja















Suatu hari, ditepi sungai chao praya, sungai legendaris yang membelah kota bangkok, membeli beberapa sajian buah ditepi jalan yang berderet-deret. Kondisi ini sangat jarang dijumpai di kota-kota di Indonesia.

Buah sudah dikupas, tinggal kunyah. Sebagian ditusuk dengan tusukan bambu, mirip tusuk sate. Jadi bisa dibawa sambil lihat-lihat pagoda dan istana raja yang umurnya ratusan tahun.

Ada nangka, mangga, pepaya, salak, durian dan buah lainnya. Mirip yang dijajakan tukang buah dipasar-pasar.

Didera rasa penasaran, saya coba mengudap, kek apa rasanya buah thailand ini. Nangkanya, terasa manis legit, buahnya lentur dan tak terlalu besar. Mangganya, manis ada sedikit asam, seperti mangga keluaran majalengka dan indramayu. Rasanya unik.

Ndak semua buah bisa saya cicipi dipinggiran chain praya, tapi yang saya rasakan, ada rasa unik dari masing-masing buahnya.

Rasa buah ini tak begitu penting kita diskusikan, tapi bagaimana Thailand memuliakan tanaman untuk menghasilkan bibit unggul ini yang menjadi penting diangkat. Thailand menjadikan, pertanian dan wisata sebagai sektor unggulannya.

Saya tanya pemandu, dimana gerangan thailand melakukan riset pertanian. Dia menjelaskan, thailand bagian barat adalah pusat risetnya. Saya mengamini saja.

Kerajaan thailand benar-benar memusatkan penelitian pemuliaan tanaman, khususnya buah sebagai bagian penting pengembangan holtikultura. Segala daya upaya diuji untuk mendapatkan bibit unggul. Ada tempat, diantara bangkok dan pattaya, terhampar kebun dengan aneka jenis buah-buahan. Pemandu bilang, itu juga salah satu riset buah. Sebegitu pentingnya memilih bibit sebelum ditanam untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Saya jadi terkenang, saat saya kecil di kampung. Orang jualan bibit dipikul keliling. Namanya juga bakul bibit, selalu saja meyakinkan bahwa bibit yang dibawanya bibit unggulan. Ada kelapa genjah, durian legit, nangka super dan lainnya.

Karena terayu bibit unggul, maka lanjut beli dan ditanam di beberapa sudut kebun. Dan ternyata, semua itu omong kosong bakul. Lha terrnyata setelah menunggu 5 tahun, durian tak kunjung buah, sekali buah rasanya anyep. Kelapa genjah pun demikian. Sedangkan nangka juga kurus-kurus saja.

Dan, kegagalan itu baru bisa dideteksi setelah menunggu tahunan untuk melihat hasil buahnya. Thailand membuktikan, akhirnya usaha takkan mengkhianati hasil. Kita akhirnya mengenal jambu bangkok, pepaya tailand, durian montong, kelengkeng bangkok, nangka bangkok dan bangkok-bangkok lainnya. Dan semua itu didesain, bukan dibiarkan tumbuh seperti belukar.

Mungkinkah di negeri ini, bisa meniru sertifikasi buah unggul agar negeri agraris ini tak lagi impor buah. Agar petani tak tertipu dengan jualan bakul bibit, yang semua bilang bibut unggul, bibit unggul dan bibit unggul.

NB :
Dari obrolan tukang bibit, bibit terbaik rambutan dipasok dari lampung. Bibit mangga dari majalengka. Bibit durian dan jambu dari cianjur.

Business Coaching Program

Menjadi business coach untuk para sales dan collection di Telkom Indonesia

7 Kiat Menghadapi Krisis Karena Corona















Sebagai orang yang pernah ditempa sebagai pecinta alam, ada satu materi yang sangat melekat sampai hari ini. Materi tentang Survival, atau bertahan disegala medan dengan segala keterbatasan.

Kalau dalam survival pecinta alam, yang kita urus dirika dan team agar  jiwa tidak melayang saat menghadapi krisis karena tersesat, suhu yang dingin, badai dan segala kondisi alam.

Tapi hari ini, survival dengan adanya covid yang kita lindungi tidak hanya nyawa, tapi juga bagaimana bertahan dalam bahasa covid yang menakutkan. Saat ini saya akan berbagi tentang pengalaman yang saya kumpulkan bagaimana menghadapi krisis, khususnya krisis usaha dan keuangan.

1. Batasi Segala Pengeluaran
Jurus pertama yang sangat penting, setelah krisis tiba, langsung batasi segala pengeluaran. Kebutuhan dan keinginan yang tidak penting langsung tunda. Pos rekreasi, kuliner, touring dan kebutuhan hoby langsung dikendalikan.

Mengapa mengendalikan pengeluaran ini penting, salah satunya karena pengeluaran ini ada dalam kendali kita dan bukan orang lain. Sedangkan pemasukan ada diluar kendali kita. Seperti halnya bisnis kita, saat Corona datang maka pemasukan menjadi terganggu, pendapatan tak menentu dan bahkan tidak ada sama sekali serta PHK bisa saja datang kapan saja.

Jadi fokuslah apa yang menjadi kendali kita semisal mengatur pengeluaran daripada mengharapkan apa yang ada diluar kendali kita.


2. Hentikan Ekspansi Bisnis atau Proyek
Jika anda punya bisnis, hentikan ekspansi. Ekspansi bisnis dalam kondisi darurat seperti ini tidak dianjurkan, karena dikhawatirkan cash yang kita keluarkan dalam proyek tidak balik modal atau malah lenyap. Lebih baik uangnya disimpan dalam bentuk cash sebagai dana cadangan. Ekspansi bisnis sangat beresiko dikondisi yang labil seperti ini.

Demikian juga proyek non produktif yang tidak menghasilkan uang seperti renovasi, peremajaan alat produksi, pembelian perangkat baru atau hal-hal konsumtif lainnya. Aktifitas ini untuk mengurangi potensi kehilangan cash saat kondisi krisis.


3. Menjaga Cash Usaha Tetap Ada
Dalam kondisi krisis, cash is a king. Memegang cash adalah cara teraman dalam kondisi krisis untuk menopang kebutuhan hidup. Saat kita tidak memegang cash, padahal kebutuhan pangan, sandang dan papan harus dibayar makan akan sangat menyulitkan.

Oleh karena itu, jika punya barang, jasa atau apapun yang dapat diuangkan, segera lakukan untuk mendapatkan cash. Jual barang-barang tidak produktif jika perlu. Dalam kondisi krisis dan tidak ada income, menjual aset adalah jalan terakhir untuk mendapatkan cash ditangan.


4. Melego Aset-Aset Tidak Produktif
Tidak enak memang, dalam kondisi krisis, dimana pemasukan menurun atau bahkan tidak ada, maka menjual aset adalah salah satu solusi. Tak perlu malu, toh aset tak produktif untuk apa hanya ditumpuk. Lebih baik hidup minimalis daripada terbebani hutang untuk membeli aset-aset agar dibilang wow.

Demikian juga untuk perusahaan, saat pemasukan cash tidak ada, maka menjual aset adalah salah satu jalan untuk mendapatkan cash. Kadangkala penjualan aset disaat krisis seperti saat ini harganya jatuh, namun apa daya, jika memang itu jalan agar usaha tetap jalan, maka itu hal yang layak dilakukan. Optimis saja, jika nanti suasana membaik, aset bisa kita beli kembali.


5. Likuidasi Bisnis yang Tidak Menguntungkan
Dalam kondisi krisis, harus berani melakukan tindakan tidak populer termasuk melakukan penghentian usaha yang merugi. Jika usaha yang telah melakukan penghematan habis-habisan dan ternyata tetap saja merugi, maka tak ada kata lain selain menutup usaha tersebut. Tindakan ini tidak populer, namun aman, daripada harus melakukan injeksi cash kepada perusahan yang tanpa tahu kapan kondisi membaik.

Bisa juga dilakukan proses merger antara usaha dengan cara melakukan konsolidasi usaha. Usaha yang merugi digabung dengan usaha yang masih profit agar bisa dilakukan subsidi silang jika ingin tetap dipertahankan.

Produk dan jasa yang tidak bisa dikonsumsi oleh pelanggan sebaiknya dihentikan atau dikurangi jumlahnya, agar tidak menjadi barang yang dead stock yang mengganggu cash usaha. Dan jika ada dana, maka benar-benar fokuskan pada produk dan jasa yang fast moving alias cepat berputarnya jadi duit.

6. Hidup Minimalis
Potong semua aktifitas yang tidak memberikan dampak langsung kepada pendapatan, semisal rapat-rapat, rekreasi, perjalanan dinas atau event-event secara maksimal. Alihkan dana non produktif ke arah kegiatan produktif yang dapat menciptakan cash.

Evaluasi gaji, tunjangan dan benefit karyawan agar karyawan juga aware terkait kondisi krisis yang terjadi. Selain itu kurangi fasilitas berupa biaya perjalanan, listrik, air dan semua pos pengeluaran. Hidup minimlais harus benar-benar digalakkan dan secara bertahap didorong menjadi perilaku dan budaya perusahaan.


7. Bersabar Dalam Kondisi Sulit
Harus yakin, bahwa beserta kesulitan ada kemudahan. Keyakinan ini akan menjadi api penerang untuk menghadapi krisis jangka panjang. Kita semua tak tahu, kapan corona akan berhenti, jadi bersiap secara fisik dan mental menjadi bagian penting untuk bertahan dalam kondisi jangka panjang.

Mental yang kuat akan menjadi modal penting untuk bertahan dalam jangka panjang. Kepanikan, kegelisahan, kesedihan dan emosi negatif lainnya akan menyerap energi negatif yang kemudian berdampak buruk bagi mental dan kesehatan.

Penguatan spiritualitas juga menjadi bekal penting menghadapi perang melawan corona ini. Karena ujian pandemi kali ini benar-benar berbeda dengan ujian-ujian sebelumnya. Barangnya tak kasat mata, penularannya juga acak dan susah dideteksi, maka kekuatan doa menjadi bagian penting dalam bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesiapan mental ini pada akhirnya akan berdampak positif bagi kesehatan mental dan spiritual, yang membuat kita tetap teguh dengan badai yang datang. Lebih tenang, lebih terukur dan jernih mensikapi semua tekanan dan himpitan hidup.

Semua tidak semudah kata diucapkan, karena semua orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Tidak semua orang memiliki tingkat kemakmuran dan pendidikan yang layak. Jadi kita semua perlu menebar empati agar semua yang ada dalam lingkungan kita mampu melewati ujian berat ini

Friday, April 24, 2020

Terjebak Hutang




















Dapat sharing pagi ini dari kawan yang telah lama melakukan pembinaan UKM dengan melakukan bantuan CSR korporasi. Ada fenomena penting terkait dengan perilaku UKM yang akhirnya membedakan krisis 2008 dan 2020.

Salah satunya adalah masuknya lembaga pendanaan ke sektor UKM. Lugasnya lembaga pemberi hutang kepada UKM.

Pada tahun 2008 UKM kurang begitu dilirik bankir, karena mereka cenderung memberikan kredit kepada korporasi besar yang telah teruji memberikan profit yang konsisten. Krisis 1998 dan 2008 merubah paradigma tentang kredit perbankan, ternyata dalam kondisi krisis ternyata UKM adalah salah satu entitas bisnis yang mampu bertahan. Sedangkan korporasi besar banyak yang tumbang bahkan lenyap.

Fakta ini dijadikan acuan perbankkan untuk masuk ke UKM dan menyalurkan kredit. Rupanya, gayung bersambut, banyak UKM yang tadinya zero hutang, tertarik masuk memanfaatkan fasilitas kredit untuk membesarkan usahanya.

Kemudahan fasilitas kredit dari perbankkan ternyata seperti candu. Ada banyak UKM akhirnya germar berhutang, bahkan tidak hanya untuk keperluan usaha, tetapi juga untuk kebutuhan konsumtif.

Satu dekade betikutnya, hutang ibarat sesuatu yang lumrah bahkan memaksa membuat ketagihan para UKM. UKM tanpa hutang bisa dipandang sebagai lazy company alias UKM pemalas.

Dan boom...
Corona tanpa disangka-sangka merusak ekosistem bisnis. Banyak usaha stuck bahkan tutup. Masalahnya, walau usaha tutup, bunga bank tetap buka tanpa adanya kompromi. Seperti biasanya, tak mau tahu apapun yang terjadi. UKM yang terjerat bank menjeritlah sejadi-jadinya....

Hikmahnya...
Hindarilah berutang semampu mungkin, jikalaupun terpaksa, hanya untuk kebutuhan produktif. Sungguh bunga bank itu kejam. Awalnya datang manis muka, setelah itu datang bak hantu yang menghantui hidupmu. Bahkan sampai mati pun tak tertebus sebelum diberesin...

Riba, benar-benar ngeri banget...

Nothing Tanpa Eksekusi















Hari-hari ini ada begitu banyak waktu tersita WFH. Selain itu juga kesibukan mengikuti dari webinar ke webinar, dan kebetulan banyak yang gratis. Yang berbayarpun ada, tentu dengan harga yang sangat bersahabat.

Belajar itu penting, walau Anda telah lulus sekolah, dapat sertifikasi maupun anda seorang guru. Tak ada yang salah tentang belajar ini.

Internet telah membuka lebar-lebar ilmun yang selama ini nyumput. Kita bisa mendapatkan materi apapun dengan level terendah sampai tertinggi. Bahkan bisa dikatakan saking melimpahnya bisa jadi overdosis.

Lantas apa masalahnya ?

Ilmu yang banyak dan melimpah ruah yang kita koleksi, tak akan banyak artinya tanpa upaya untuk mengamalkannya. Buku-buku koleksi terbaik yang berderet-deret, tak akan memberikan dampak signifikan tanpa diamalkan.

Era ini, menjadi sedemikian penting merumuskan ilmu yang kita kuasai menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ilmu mengamalkan ilmu.

Dalam kerja dari rumah ini, ada baiknya memberikan ruang, selain mencari ilmu, juga mengulik bagaimana ilmu itu bisa dieksekusi. Banyaknya ilmu jika tidak dibagi dan dianalkan hanya akan menjadi pepohonan rimbun tanpa buah.

Dan sesungguhnya, dampak ilmu itu saat dieksekusi. Dan eksekusi ini juga membutuhkan ilmu tersendiri.

Asa suatu kisah, seseorang jika ketemu, begitu banyak idenya. Setiap ketemu selalu mempunyai ide bisnis yang cemerlang. Selalu saja ada ide baru setiap ketemu. Namun, karena ide itu tak pernah dieksekusi, yang berkembang idenya, tapi bisnisnya kagak. Karena memang tak pernah dimulai...

Pakar yang Terpinggirkan


















Banyak pakar di Indonesia ini. Tak ada yang menyangsikan itu. Tapi apakah kepakaran itu kemudian berdampak pada kesejahteraannya. Sepertinya tidak selalu.

Kepakaran yang dibangun dari akademis mungkin ya, karena gaji profesor tentu akan lebih tinggi dari gaji dosen atau guru. Tapi kepakaran yang dibangun diluar dunia akademis, sepertinya nasibnya tak seberuntung mereka.

Seorang pakar bengkel motor atau mobil, banyak seumur hidupnya jadi montir. Ada yang pakar sablon, seumur hidupnya jadi operator sablon. Ada yang pakar bikin sepatu, nasibnya sama, hanya dari pabrik sepatu ke pabrik lainnya. Ada pakar bikin tas, tak jauh beda, hanya membesarkan usaha orang lain seumur hidupnya.

Bahkan, dalam banyak kasus, kita temui, dihari tuanya memprihatinkan. Padahal hasil karyanya telah membesarkan banyak perusahaan orang. Mengubah nasib orang bak bumi dan langit.

Mengapa hal itu terjadi. Salah satunya adalah lemahnya ilmu manajemen. Disatu sisi, banyak yang pakar ilmu manajemen, tapi tak mau turun mengelolanya.

Andai, para pakar yang kompeten di ilmu teknis itu bertemu dengan pakar manajemen. Hasilnya bisa luar biasa. Bisa saling mengisi.

Tapi masalahnya, orang teknis sulit bekerja sama dengan orang manajemen. Pun demikian, orang manajemen banyak alergi dengan orang teknis. Akhirnya, ya begitulah.

Boleh jadi, salah satu aktifitas saya adalah menemukan orang-orang hebat yang terpinggirkan dan kemudian memfasilitasi kompetensinya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Dalam perjalanannya, ada yang bisa diajak kerjasama, ada yang tidak. Ada yang bisa kerjasama dalam jangka panjang, ada juga seumur jagung. Seperti kata Steve Jobs, innovation is connecting dot. Inovasi itu seperti menghubungkan sebuah titik.

Andai kolaborasi seperti ini dilakukan secara masive, tentu akan membuat sejahtera bangsa ini lebih cepat. Tapi untuk mewujudkannya perlu mental tak mudah patah arang, karena berkawan dengan kegagalan dan ditipu orang itu menyakitkan. Karena rasa sakit itu, jarang yang menempuh jalan terjal itu.

***

Tuesday, January 21, 2020

Dari Product Driven, Market Driven Hingga Solution Driven















Tanpa kita sadari, dalam 3 dekade ini, perubahan bisnis begitu mengagumkan. Perubahan-perubahan itu jika tidak direspon dengan baik, maka itu awal petaka dari bisnis yang ada, walau bisnis itu saat ini dalam fase kejayaan.

Dalam era VUCA, Volatile, Uncertanly, Complex & Ambigue ini, kejayaan bisnis masa lalu tak menjamin kejayaan bisnis masa depan. Begitu banyak bisnis raksasa, tumbang bukan karena gagal bersaing dengan industri sejenis, tapi terdisrupt atau terganggu dengan industri baru yang masuk ke pasar.

Ada banyak industri besar tumbang tidak pakai waktu lama, Kodak, Nokia, Blackberry adalah sedikit dari sekian ribu bisnis yang harus meregang nyawa ditengah ganasnya persaingan. Ada hal menarik menjawab semua ini, yaitu perubahan teknologi informasi membuat segala tatanan yang dulunya rapi dan tertata menjadi amburadul.

Membaca trend ini, saya mencoba berbagi pengalaman terkait perubahan besar ini dengan pendekatan supply dan demand.

1. Era Supply lebih kecil dari Demand (Product Driven)
Era ini dimana produsen baik produk maupun jasa menjadi raja. Mengapa demikian, karena pada era ini suplier lebih sedikit daripada konsumen. Apapun yang diproduksi oleh selalu dibabat habis oleh konsumen, baik kualitas produk bagus atau seadanya.

Pada kondisi ini, market sedang lapar. Minimnya pesaing dan tingginya permintaan membuat pabrik dapat mendikte pasar dengan produk-produknya tanpa persaingan berarti. Era ini ditandai dengan riset produk mendapat kursi emas dalam mata rantai perusahaan. Orang-orang R&D begitu menguasai perusahaan.

Kenapa era ini terjadi, salah satunya adalah keterbatasan penyebaran pengetahuan sehingga hanya orang tertentu yang menguasai. Era ini disebut sebagai era product driven dimana produk mendominasi pasar. Siapa menguasai sektor produksi maka akan menguasai kekayaan.

2. Era Supply seimbang dengan Demand (Market Driven)
Bisnis tidak ada yang abadi, perubahan teknologi dan prilaku pelanggan terus bergerak. Dengan berkembangnya teknologi, maka bertahap produsen semakin banyak.

Ilmu pengetahuan terkait dengan produksi yang awalnya dikuasai oleh negara maju berlahan menyebar ke negara berkembang. Ada banyak mahasiswa dari negara berkembang belajar ke negara maju dan pulang membawa ilmu pengetahuan hingga bangsa itu bertahap mulai mandiri. Perkembangan Jepang, Korea, China dan India menunjukkan perwakilan era ini.

Dengan bertambahnya suplier maka membuat keseimbangan baru. Produsen dan konsumen seimbang. Pada kondisi ini kata kunci dari marketing adalah siapapun yang mengetahui customer need dan want dan kemudian mengemas dengan peluncuran produk, maka akan menguasai pasar.

Era ini ditandai dengan fungsi orang marketing begitu dominan dengan jargon Product, Price, Place & Promotion. Market research terkait dengan demografi konsumen sedemikian ramai dibahas. Pada era ini, siapa yang mengetahui perilaku pasar, dia akan mendapat kekayaan besar.

3. Era Supply Lebih Banyak dari Demand (Solution Driven)
Sekali lagi, bisnis tak ada yang abadi. Bertahap era market driven runtuh. Hal ini disebabkan terlalu banyaknya produsen daripada konsumen, sehingga produk yang dibikin pabrik tidak dengan mudah dapat diserap pasar.

Pasar menjadi jenuh, produk yang dulu fast moving bertahap menjadi slow moving dan masuk dalam kondisi dead stock. Perang harga terjadi dimana-mana untuk menggaet pelanggan.

Kejenuhan ini memunculkan ide baru yang dikembangkan oleh para pelaku start up. Ide itu adalah Solution Driven. Apa itu, yaitu pendekatan produsen yang dilakukan dengan melihat pain dan gain pelanggan.

Pain adalah merupakan problem pelanggan baik dari sisi kerugian, resiko, kegagalan dan hambatan. Produk yang dibikin harus bisa mensolusi masalah-masalah pelanggan, dengan sebuah asumsi jika produk dan jasa bisa mensolusi, maka produk yang dibikin dapat langsung dikonsumsi oleh pasar.

Gain merupakan keinginan pelanggan dan harapan-harapan yang diinginkan bisa berupa profit, loyalitas pelanggan, jumlah sales, profit margin dan sebagainya.

Pada era ini, produk dan jasa harus berfokus pada penyelesaian pain dan gain pelanggan, tanpa itu produk harus ngantri untuk dapat dikonsumsi pelanggan.

Begitulah 3 era yang terus berganti. Kira-kira, era apa lagi yang akan terjadi dimasa mendatang ? yang jelas tidak ada yang abadi dikolong langit ini...

Untuk sementara, salam Solution Driven...
Apa yang bisa kita bantu buat pelanggan kita ???

Saturday, January 18, 2020

Ada Apa dengan Palembang ?















Mengunjungi kota tua Pelembang seperti mengunjungi kota metropolis masa lalu.

Kota ini begitu menyejarah dengan sungai Musi sebagai sentra peradabannya.

Konon, 650 masehi, kerajaan Sriwijaya berdiri disekitar tepi sungai Musi ini. Kekuasaannya meliputi malaysia, thailand dan vietnam.

Sekitar 1.200 masehi, Sriwijaya redup, dan kesultanan Islam menggantikan fungsi pemerintahaan.

Kesultanan Palembang namanya. Sultan yang paling dikenal adalah sultan Badaruddin 2 yang melawan Belanda hingga diasingkan ke Ternate.

Sedangkan ulama yang terkenal adalah syaikh Abdussomad al Palimbani. Belia beraktifitas di awal tahun 1.800-an.

Ada leganda sungai musi, pulau kemaro namanya. Dikisahkan puteri raja siti fatimah dipersunting saudagar dari china, bernama Tan Boen An dan kemudian menikah. Saat pulang, diberi beberapa guci yang diisi sawi asin oleh mertuanya di china.

Al kisah, setelah diketahui sawi asin, maka beberapa guci dibuang ke laut, namun guci terakhir yang pecah, dan ternyata berisi emas. Sang pangeran terjun ke sungai mencari guci tersebut, lama tak muncul, istrinya ikut terjun, tak muncul juga pengawalnya ikut terjun. Mereka bertiga meninggal.

Kata juru kunci, kejadian itu terjadi disekitar tahun 1.300. Jadi cocok penjelasan saat Sriwijaya meredup, kesultanan Islam bangkit.

Budaya di Palembang sangat beragam, mungkin karena kota metropolis tempo dulu.

Budaya melayu, china, india dan arab terwakili disini. Hal ini bisa diwakili dari kulinernya. Pempek dan tekwan, jelas dari kuliner china. Pindah musi rawa terasa ini kuliner kas melayu. Martabak india terasa kuliner arab dan indianya.

Bangunan rumah juga begitu, ada yang gaya china berupa rumah petak. Ada rumah panggung dan ada rumah tancap tepi sungai musi.

Jadi kalau ke palembang, ada banyak yang bisa kita kunjungi. Berperahu di seputaran sungai musi, ini rekomended banget, kita bisa lihat rumah tancap dan industri pupuk dan sejenisnya. Dilanjut mampir ke pulau kemaro.

Juga seputaran jembatan ampera yang diresmikan ahmad yani juga ok punya. Sekalian mampir ke pasar 16 ilir. Atau bisa ke pasar cinde cari amplang.

Yang ndak kalah keren, naik monorel yang bisa mengantar kita ke bandara bolak balik.

Jadi, selain pempek, tekwan, pindang musi rawas dan amplang, kita bisa wisata sejarah sambil bayangin seperti apa kota metropolis ini bekerja.

Oiya, kalau mau main lebih jauh, naik perahu ke daerah transmigrasi, infonya sekitar 4 jam dari pelabuhan bawah jembatan sungai musi.

Palembang memang banyak sensasinya, untuk mengenalnya lebih dekat, 3 hari ndak cukup...

Jiwasraya & Asabri















Jiwasraya konon merugi 13.5 Trilyun. Asabri konon tak kalah besar 10 Trilyun. Jiwasraya nasabahnya berupa layanan DPLK, asuransi pribadi dan kelompok dengan keanggotaan publik. Sedangkan Asabri adalah asuransi dari TNI, Polri, ASN dan lainnya.

Para nasabah itu membayar premi baik pribadi maupun lewat perusahaan dengan harapan jika ada kejadian sebagaimana yang disepakati dalam perjanjian polis, maka perusahaan asuransi itu akan membayar sesuai ketentuan yang disepakati.

Kalau asuransi pensiunan bisa dinikmati saat pensiun nanti, bisa berupa uang maupun fasilitas kesehatan. Untuk pegawai aktif bisa dicairkan saat ada kecelakaan kerja atau kematian.

Ilmu untuk memprediksi kapan uang harus dibayarkan dan berapa besar harus membayar premi disebut aktuaria. Dengan segala variabel dikumpulkan untuk memprediksi segala resiko yang akan terjadi.

Darimana biaya operasional dan gaji pegawai asuransi didapat. Ya dari memutar uang nasabah yang masuk kedalam portofolio investasi. Laba dari perputaran itulah untuk biaya operasional, selebihnya jadi untung perusahaan.

Agar perusahaan asuransi dapat menjamin pembayaran saat jatuh tempo, maka ada undang-undang asuransi dan dana pensiun. Undang-undang itu intinya, agar pada saat jatuh tempo bayar ke nasabah dijaminkan ada duitnya. Oleh karena itu, perusahaan asuransi tidak boleh ugal-ugalan yang berakibat bangkrut.

Maksud ugal-ugalan disini yaitu menginvestasikan duit nasabah kepada portofolio yang tinggi resikonya. Perusahaan asuransi investasinya harus konservatif alias aman. Sehingga investasi kedalam bentuk saham beresiko tinggi tabu dilakukan, kalaupun boleh hanya untuk yang blue chip.

Mayoritas investasi pada resiko rendah dan moderat macam surat utang negara atau deposito.

Nah, kenapa Jiwasraya & Asabri merugi. Dugaanya adalah investasi pada portofolio beresiko tinggi. Apa itu ?

Saham non blue chip atau saham gorengan. Saham yang tidak memcerminkan tingkat kesehatan dari perusahaan itu. Katakanlah saham itu melejit akibat gorengan sampai di angka 1.000 perak, padahal nilai sebenarnya 75 perak.

Saham gorengan itu dibeli saat harga tinggi. Dan kemudian karena saham gorengan seperti kerupuk, langsung mengkerut dingin kena angin dengan kembali ke nilai asalnya jadi 75 perak.

Nah, investor hilang duit sebesar 925 perak dalam tempo tak terlalu lama. Kemana hilangnya 925 perak tadi. Karena uang maya, saat investor beli dengan harga tinggi, serta merta setelah dibeli, pemegang saham hantu pada melepas sahamnya. Panen besar mereka.

Kenapa itu semua terjadi. Saya juga tidak tahu, deripada menebak nebak, biar yang berwenang mencarinya, atau untuk sementara kita tanyakan pada rumput yang bergoyang...

Coaching yang Saya Tahu















Sebelumnya saya mengira, coaching itu adalah salah satu metode pengajaran sejenis training atau mentoring. Namun, setelah mendalami lebih jauh, ternyata sangatlah berbeda. Jika metode pembelajaran lainnya lebih menekankan pada kemampuan pengetahuan superior dari seorang trainer atau mentor misalnya, namun kalau coaching justru sebaliknya. Coachee menjadi pusat dari sumberdaya pembelajaran yang akan dieksplorasi seorang coach.

Dalam prakteknya, seorang coach perlu mendalami kompetensi dasar dalam menggali seluruh potensi seorang coachee, melihat potensi-potensinya dan memantiknya menjadi sebuah kekuatan yang muncul dari dalam. Semakin netral posisi seorang coach, dan semakin powerful penggalian yang dilakukukan oleh seorang coachee adalah kondisi ideal untuk mendapatkan hasil peningkatkan kerja yang menakjubkan.

Untuk mendapatkan kompetensi coach yang ideal, maka seorang coach memerlukan beberapa kompetensi dasar yang harus dimiliki dan dilatih terus menerus. Keterampilan tersebut tidak cukup hanya dalam bentuk teori berupa pengetahuan teknis dan psikologis, namun harus diwujudkan dalam dalam bentuk praktek langsung sebagai bentuk exercise untuk mengoleksi jam terbang.

Semakin banyak jam terbang diperoleh, maka seorang coach akan sangat kaya perbendaharaan ilmunya. Kunci utama disini adalah practice make perfect. Semakin banyak jam terbang, semakin kaya perbendaharaan seorang coach yang menjadi bekal dalam meningkatkan kapabilitasnya dalam meng-coach orang lain.

Dalam teori dasar yang dikembangkan komunitas coach, seorang coach idealnya perlu memiki keterampilan dasar yang perlu terus diasah, diantaranya : building rapport, powerfull listening, powerfull question dan coaching metodology.

Building rapport adalah seberapa baik hubungan antara seorang coach dengan coachee. Semakin baik dalam membangun hubungan maka akan semakin baik dan berkualitas pula jalannya proses coaching. Untuk mendapatkan hubungan yang berkualitas, ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan diantaranta melalui pendekatan berbasiskan NLP atau psikologi terapan lainnya.

Kemampuan listening adalah kemampuan mendengar dengan baik dan maksimal. Semakin baik seorang coach melakukan proses mendengar, maka akan semakin berkualitas jalannya proses coaching. Bagaimana seorang coach mampu menangkap “big elephant” atau point-point penting dalam sebuah sesi coaching, menjadi modal penting untuk menggali lebih dalam potensi seorang coach. Keterampilan mendengar, walaupun terlihat mudah dan biasa kita lakukan, namun untuk menjadi seorang powerfull listening diperlukan skills dan exercise yang perlu dilatih terus menerus.

Selain itu, seorang coach harus memiliki kemampuan menggali coachee melalui pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas. Pertanyaan tersebut dilakukan secara eksploratif melalui berbagai jenis pertanyaan terbuka. Bisa dimulai dengan pertanyaan terbuka apa, siapa, bagaimana, mengapa, kapan dan dimana serta pertanyaan terbuka dan eksploratif lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan terstruktur ini akan menggali secara mendalam alam bawah sadar coachee yang sebelumnya tidak muncul. Kemampuan melontarkan pertanyaan ini menjadi aktifitas kunci seorang coach untuk mendapatkan hasil maksimal dalam membuka kotak pandora seorang coachee. Melalui sesi ini bisa jadi akan ditemukan momen Aha ! laksana mememukan butiran mutiara dalam tempurung kerang, yang bisa jadi seorang coachee tidak menyadari selama hidupnya.

Disamping menguasai soft skills diatas, seorang coach harus memiliki metode yang terbukti handal. Salah satu metode yang banyak diimplementasikan adalah metode coaching yang dikembangkan oleh ICF (International Coaching Federation).

Metode ICF dalam prakteknya bisa dijelaskan secara sederhana sebagai berikut : Agenda, Why, Outcome & Measure. Pada tahap Agenda, seorang coach membikin kesepakatan tentang apa yang akan dibahas pada sesi coaching bersama coachee. Selanjutnya, pada tahap Why, seorang coach akan menggali lebih dalam tentang sebab dan alasan mengapa agenda tersebut dipandang penting bagi seorang coachee. Pada tahap outcome, seorang coach akan menggali kriteria target yang ditetapkan melalui identifikasi kondisi saat ini dan kondisi yang diharapkan setelah sesi coaching.

Pada tahap akhir, seorang coach akan membantu seorang coachee untuk merumuskan ukuran-ukuran keberhasilan, bagaimana cara mencapainya, apa hambatan dan bagaimana menyelesaikannya serta seberapa besar komitment seorang coachee untuk mencapat target yang telah ditentukan.

Melihat proses dan sistem coach diatas terlihat bahwa proses coaching menjadi bagian penting dari mekanisme pemberdayaan sumber daya manusia. Coaching bisa menjadi pelengkap dari proses pemberdayaan lainnya, seperti training, mentoring, consulting & therapy.

Namun demikian, untuk mendapatkan hasil maksimal dari proses coaching, seorang coach juga perlu membekali diri dengan kompetensi yang berbasis ilmu psikologi. Untuk melengkapi kompetensi tersebut, seorang coach bisa menempuh pembelajaran Neuro Linguistic Program (NLP) sebagai salah satu best practice dalam pembelajaran soft skills. Jika ingin memperdalam lebih lanjut, selain skills NLP, juga bisa dilengkapi dengan ilmu hipnotyc untuk mendalami alam bawah sadar seorang coach.

Dengan kelengkapan keilmuan tersebut, maka seorang coach menjadi sangat powerfull pengetahuannya sehingga mampu memahami kondisi coach dengan sangat baik dari alam sadar dan bawah sadarnya. Lepas dari semua skilll dan knowledge diatas, maka jam terbang akan sangat menentukan seberapa cakap seorang coach.

Pada dasarnya, pengetahuan diatas tidak akan banyak memberi dampak tanpa praktek dilapangan. Seorang coach adalah seorang pembelajar, saat berhenti belajar, maka akan berhenti bertumbuh. Dan kata kunci dari keahlian seorang coach adalah praktek. Practice make perfect !

Eksplorasi Alam Bawah Sadar















Revolusi digital tidak hanya mengubah bisnis yang dulunya bisnis konvensional yang iklimnya adem ayem, tertata dan prediktif, menjadi bisnis yang ugal-ugalan. Tak tertata, tak bisa terprediksi dan kadang easy come easy go. Sampai-sampai, kejayaan masa lalu tak bisa jadi jaminan kejayaan dimasa mendatang.

Kali ini, saya tak membahas tentang bisnis yang sedemikian dinamik tadi karena efek disruption, tapi akan mengulik dampaknya bagi sistem pembelajaran, yang sadar atau tidak, terus bergerak diluar kelaziman sebagaimana pendidikan konvensional yang berjalan puluhan tahun.

Kita mulai dari perjalanan internet, yang semula dengan radio pakat yang sering tulalit dgn speed mulai 4 kbs, 8 kbps, 16 kbps, 32 kbps terus sampai era 10Mega kbps bahkan lebih. Belum lagi kalau dulu akses mesti via komputer, kini akses apapun dalam genggaman.

Revolusi bandwith telah mengubah peta pembelajaran begitu hebatnya. Dulu belajar hanya pada tempat tertentu dan dengan guru tertentu. Dulu belajar dengan modul fisik dan alat tulis. Kini semua telah berubah.

Semua orang bisa akses apa saja, dimana saja dan kapan saja serta dalam bentuk apasaja. Mau teks ala ebook, voice ala podcast maupun video ala youtube. Konsep belajarnya pun bisa didesain sedemikian rupa ala e-learning.

Kelimpahan itu membuat siapapun bisa belajar apapun. Kepakaran tidak lagi dimonopoli seorang berlabel guru, trainer, mentor atau konsultan. Bahkan, sering ditemui seorang pembelajar, jauh lebih mumpuni dari gurunya.

Lantas apa akan hilang fungsi seorang guru. Dan lantas apapula yang harus dilakukan agar bertahan di era digital ini.

Well...
Anda ingat tentang bongkahan es dalam air. Kalau kita coba masukkan es dalam air, kira-kira 10 persen bagiannya akan muncul dipermukaan, dan sisanya 90% akan tenggelam. Para pakar psikologi menggambarkan, sisten manusia bekerja dengan 10 persen dalam alam kesadaran (consius) dan 90 persen bekerja dalam alam bawah sadar (subconsius).

Alam sadar dimaknai alam dimana manusia mengandalkan logika, skills dan rasio. Sedang alam bawah sadar bekerja dalam visi, mission, value, purpose, identity.

Apa yang terjadi pada revolusi pembelajaran hari ini adalah perubahan proses belajar pada aspek alam sadar. Orang begitu mudah mendapatkan ilmu pengetahuan dan skills dari segala arah, namun demikian, keberlimpahan informasi itu tak serta merta berdampak besar pada perubahan alam bawah sadarnya.

Teknik utama meningkatkan kompetensi alam sadar bisa melalui training, mentoring dan pemagangan. Namun pendekatan itu tak cukup untuk membangkitkan potensi 90 persen alam bawah sadarnya.

Lantas apa yang bisa dilakukan seorang guru masa depan. Boleh jadi aspek pengetahuan dan keterampilan digantikan oleh pembelajaran digital, sehingga fungsi guru sebagai pengajar akan bertahap berubah jadi fasilitator. Namun, fungsi menggarap alam bawah sadar, tak bisa serta merta digantikan oleh mesin pembelajaran.

Maka pendekatan coaching sebagai alat menggali potensi alam bawah sadar peserta/coachee akan menjadi trend baru. Dan bisa jadi hypnosis juga akan menjadi alat baru untuk membenamkan nilai-nilai. Dan juga theraphis. Kenapa teraphys penting. Karena manusia digital kedepan, waktunya dihabiskan dalam dunia maya, dan saat melihat realita, akan mengalami banyak stress, melihat jauhnya perbedaan antara idealisasi dunia maya dan nyata.

Maka, ilmu-ilmu terkait alam bawah sadar ini akan menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran masa depan. Maka ilmu-ilmu yang mendukungnya semacam Neuro Language Program/NLP, Hypnosis, mindfullness & neuro sains serta psikologi praktis lainnya.

Ini semua menjawab tentang paradoks keberlimpahan informasi, semakin banyak tahu semakin bingung apa yang mau dilakukan. Tugas itulah yang nantinya menjadi PR berikutnya.